MADILOGnya Tan Malaka
Dan mereka berkata : "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan didunia
saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan
tentang itu, mereka tidak lain hanalah menduga-duga saja (QS 45:24).
Dalam dunia kayal (imajinasi, fantasi) Tan Malaka,
berdasarkan teori-hukum Dialektika Materialis (MADILOG)nya, maka perarungan antara klas yang berpunya danklas yang tak berpunya
akan berakhir dengan kemenangan klas yang tak berpunya. Dalam kayalnya, klas yang takberpunya itu adalahklas yang kuat, sedangkan
klas yang berpunya itu adalah klas yang lemah, maka dalam pertarungan, yang lemah kalah, yang kuat menang. Dalam dunia kayal
bisa terjadi seperti itu. Tapi dalam dunia nyata (realita), teori-hukum Dialektika Materialis (MADILOG) adalah omong kosong
belaka. Bahkan berdasarkan teori-hukum Dialektika Materialis (MADILOG) sendiri tak pernah ditemukan, dijumpaibukti dalam dunia
nyata, bahwa yang tak erpunya bisa mengalahkan yang berpunya. Juga berdasarkan teori-hukum Dialektika Materialis (MADILOG),
maka pertarungan itu takpernah berakhir. Tarik menarik antara proton positip dan elektron negatip takpernah berakhir. Akhir
suatu pertarungan adalah awal pertarungan berikutnya. Pertarungan tak pernah berakhir.Tak ada yang berhenti, semuanya bergerak
terus menerus. Berakhirnya pertarungan adalah berakhirnya gerak, tammatnyadunia. Tammatnya dunia bertentangan sekaligus bersesuaian
dengan Dialektika Mterialis (MADILOG).
MADILOGnya Tan Malaka tak pernah dapat perhatian
dan sambutan dari siapa pun. Tak ada literatur yang mendukung, mengulas, menafsirkan MADILOGnya Tan Malaka daripara proletar,
Murba, Komunis. Anjuga tak ada literatur yang mengecam,menantang, mengkritik MADILOGnya Tan Malaka dari para borjuis, Kapitalis.
Salaha atu keahlian Tan Malaka dengan Dialektika-Materialis
(MADILOG)nyaadalah kejeniusannya membungkus, mengemas teori (kayal)nya sehingga sepintas tamapak terlihat nyata dalamrealita
dengan bukti-buktiilmiah. Tan Malaka sangat lancar (bertele-tele) mengangkat bukti-bukti ilmiah untuk memenangkan klas yang
tak berpunya atas klas yang berpunya. Tapi tak pernah menampilkan bukti nyata atas keberpihakkannya pda klas yang tak berpunya
dalam realita, dalam praktek, bukan dalam dunia teori (kayal). Asas program, pidato, karangan, propaganda dan agitasi yang
nyata (dalam kayal Tan Malaka) gagl mempersatukan seluruh yang tak punya. Tan Malaka tetapsaja berada di awang-awang idealis,
tak berpijak pada bumi realis.
Para ahli diharapkan dapat menyusun sanggahan/sangkalan
(bab per bab, pasal per pasal, paragraf per paragraf, alinea per alinea) untuk meluruskan, membetulkan, mengoreksi seluruh
teori, ajaran, pseudo ilmiah yang sesat mnysatkan. Tan Malaka sejak dari awal sampai akhir MADILOGnya secara licin/licik (rekayasa
logis-rasional) menggiring pembacanya ke arah atheis, menolak, menyangkal "kun fa yakun", mengembalikan semuanya pada serba
benda (materialis), barang mati (anorganik), tanpa nyawa, tanpa jiwa, tanpa hati, tanpa prasaan (brain, hart, intellect, mind,
ratio, reason, sense, soul, spirit), yang hanya bisa diserap/dicerap oleh panca indra. Tan Malaka gagal menjelaskan prbedaan
antara sel/atom kayu bakar dengan sel/atom pohon beringin.
Ahli Ilmu Alam benda mti (Ilmu Bukti) murni mempelajari
aktivitas alam dunia dan mencari hukum-hukum tentang aktivitas alama dunia itu saja, tidak memasuki wilayah ketuhanan (theologi),
alam akhirat. Ahli Filsafat dikatakan terbagi dua. Pertama, Ahli Filsafat Idealis berfikir secara abstrak, tidak berdasarkan
benda. Kedua, Ahli Filsafat Materialis berfikir secara konkrit, berdasarkan benda mati (materialis(. Yang merasa diri sebgai
Ahli Filsafat Materialis semacam Tan Malaka sangat bernafsu menggunakan hasil temuan Ahli Ilmu Alam benda mati (Ilmu Bukti)
untuk menyangkal, menolak, mengingkari adanya Tuhan Yang Mah Esa, alam akhirat.
Tan Malaka mengisahkan bahwa Tan Malaka kecil/muda
lahir dalam keluarga Islam yang taat. Diantara keluarganya adalah seoang alim ulama yang dianggap keramat. Kedua Ibu Bapaknya
taat dan takut kepada Allah dan menjalankan suruhan Nabi.Tan Malaka kecil sudah bisa menafsirkan alQur:an dan dijadikan guru
muda (asisten). Matanya basah ketika mendengarkan cerita kepiatuan Muhammad bin Abdullah. Ia menghapal dalam bahasa Arab dan
Belanda. Ia menganggap bahasa Arab sempurna, kaya, merdu, jitu dan mulia. Ia menammatkan terjemahan alQur:an dalam bahasa
Belanda bebrapa kali. Ia membaca tentang Islam dari Snouck Hurgronya, Sales, Maulana Mohammad Ali. Namun Tan Malaka dewasa
mempertanyakan, mempermasalahkan, mempersoalkan : Dimanakah tempatnya nerakaitu ? Apa bahaya apineraka yang menyala terus
menerus itu ? Bagaimana bisa mayat-mayat yang sudah hancur luluh dan lebur itu digenap bulatkan kembali ? Bagaimana bisa Tuhan
Yang Maha Kasih itu sampai hati melihat makhluk yang dijadikanNya itu berteriak-teriak menjerit-jerit dimakan api neraka yang
maha panas itu ? Setelah mempelajari, merenungkan, menyaksikan, mengetahui Alam Terkembang, mka dalam otak, benak, tengkorak
Tan Malaka bersarang tersimpul, terlihat bahwa semuanya itu hanyalah benda anorganik belaka, takada alam akhirat, tak ada
Tuhan. MADILOGnya Tan Malaka berupaya meyakinkan untuk mengakui bahwa yang pantas diagungkan, dikagumi, diperingati adalah
keributan tahun 1926 yang dipengaruhi PKI, dan pemimpin PKI semacam Dahlan, AliArcham, Haji Misbah, Sugono, Dirja, dan lain-lain.
Bagaimana pun pintarnya bersilat lidah, menjungkir-balikkan kebenaran dengan MADILOG (Materialis, Dialektika, Logika), namun
Tan Malaka tak pernah dikenal sebagai sosok yang jujur, yang omongannya bisa dipercaya, yang setia menyantuni para proletar.
Orang-orang komunis beranggapan bahwa kebenaran
abadi yang tidak dapat diragukan, yang tidak dapat diperdebatkan adalah "Dialektika Materialisme" (Muhammad Quthub : "Jawaban
Terhadap alam Fikiran Barat Yang Keliru Tentang Al-Islam", 1981:42).
Logika Aristoteles "ORGANON" (alat untuk mencapai
kebenaran) sampai sekarang masih dipandang tahan dari kritik-kritik (Drs M Umar, dkk : "Fiqih-Ushul Fiqih-Mantiq", I, 1984/1985:104).
Orang-orang atheis mencoba memungkiri adanya Tuhan,
merasakan dirinya diadakan oleh alam secara kebetulan. Mereka terus mencoba mempengaruhi manusia untuk mempercayai adanya
hidup tanapa adanya Tuhan. Tetapi teori evolusi Darwin tentang hidup membuktikan bahwa hidup muncul tanpa Tuhan itu adalah
pengakuan yang bertentangana dengan fitrah manusia itu sendiri. Fitrah manusia mengakui, mengmani adanya Allah, Tuhan Yang
Maha Esa (Sayyid Quthub : "Tafsir Dibawah naungan alQur:an", II, 1985:84).
Imam alGhazali mengelompokkan ahali-ahli filsafat
ke dalam tiga golongan : Pertama, Golongan Dahri (Filsafat skepstis, atheis, materialis, eksistensialis, zindiq), yaitu yang
p3ercaya kepada keabadian dari pada benda (Hukum Kekekalan Massa dan Hukum Kekekalan Energi) dan menolak meyakini adanya Yang
maha Pencipta (generatio spontanae). Kedua, Golongan Thabi’I (Filsafat Naturalis) yaitu yang percaya terhadap Yang Maha
Pencipta, tapi berfikir bahwa jiwa manusia itu ketika berpisah dari pada tubuh kasar juga ikut mati dan oleh sebab itu tidak
ada perhitungan mengenai tindak-tanduk manusia. Ketiga, Golongan Ilahi (Filsafat Deis), yaitu yang percaya kepada Tuhan (Imam
alGhazali : "Pembebas Dari Kesesatan", 1986:21-23, Sayid Amir Ali : "Ilham Islam", 259-260).
Sebagian pertanyaan yang mungkin bersarang di benak,
di otak orang-orang semacam Tan Malaka, dapat disimak antara lain dalam Mingguan PERTAHANAN ISLAM, Fort de Kock (Bukittinggi,
Sumatera Barat), No.1, Tahun ke-I, 15 Maret 1939, hal 14-19. Sedangkan jawabannya, dapat ditemukan antara lain dalam "Islam
& Wetenschap" (Islam dan Sains Modern), I-III, 1938, terbitan Boekhandel KAHAMY, Fort de Kock Bukittinggi, Sumatera Barat.
|